anak jalan, kehidupan kota, dunia malam

Cerita Motivasi Pengalaman Masuk Sekolah Favorit

Cerita ini adalah kisah nyata perjalanan seorang anak yang berhasil lolos seleksi di salah satu sekolah menengah agama ( MTs ) Negeri Favorit di Jakarta, dengan kondisi keluarga yang sederhana, tidak bisa membaca dan menulis bahasa Alquran dan dengan nem SD yang hanya berbeda 0.40 dari batas minum untuk lulus, tapi dengan kebesaran dan kuasa Allah, Serta Ridha dari sang Ibu Ia berhasil lolos dengan peringkat ke-2 terbaik dari >2000 Pendaftar yang ada.

Sebuah pencapaian kecil, tapi itulah awal mula yang mengantarkannya menjadi tumbuh lebih “besar“.

 

Berikut adalah ceritanya, semoga bisa memotivasi kita untuk tetap optimis, lepas dari segala belenggu negatif yang ada.

Aku adalah seorang anak dari keluarga nelayan. Kami tinggal di kawasan industri perikanan, Cilincing, Jakarta utara
Hari – hari aku lalui dengan sesuatu yang biasa terjadi disana, bercanda dan berkumpul bersama teman – teman, melakukan beberapa permainan tradisional, seperti bermain kelereng, petak umpet, sepak bola. Hingga permainan modern seperti bermain playsation atau game online di warung internet.
Pergi pagi dan pulang petang adalah rutinitas kami dalam bermain. Jangankan untuk belajar, sekedar tidur siang saja sudah terasa aneh dalam rutinitas kami. Kami hanya pulang ketika uang jajan yang diberikan telah habis, atau ketika perut memang sudah benar – benar keroncongan. Begitu seterusnya dari mulai aku duduk kelas 1 SD bahkan sampai aku berada di Kelas 6 SD, kegiatan dan rutinitas itu terus berlanjut.

Rutinitas itu tidak berubah, meskipun cuaca sedang hujan, di hari lebaran, apalagi hanya karena sekedar besok ada ujian.

Playsation, gamers, bocah gamers

Everyday is a game day. Via telegrapgh.co.uk

Singkat cerita akhirnya nilai ujian nasional SD saya, telah keluar, dan itupun tidak seperti teman – teman yang lain di Sd saya, rata – rata mereka sudah mendatangi sekolah dan menunggu hasil ujiannya dipajang sedari pagi.

Jauh berbeda denganku yang baru berangkat menuju sekolah tepat setelah ashar berkumandang, tanpa sholat terlebih dahulu, karena memang biasanya juga tidak sholat. Aku sampai di sekolah tepat jam 16 . 00 WIB, agak terkejut setelah melihat dari atas kebawah ternyata aku lulus, tapi dengan peringkat ke – 2 dari nilai yang terendah.

Senang, tapi ada sedikit rasa khawatir karena hanya di sana hanya tertera angka 14.90 aku sampai bingung sebenarnya aku sudah lulus atau belum, karena setauku terdengar kabar bahwa ada dua orang yang tidak lulus. “Jika nilai minimum setiap pelajaran adalah 5,5 berarti setidaknya nilai minimum keseluruhan untuk bisa lulus itu 16.50. berarti ?? aku ini lulus atau gak?“ Ucapku dalam hati.

Akhirnya di tengah kebingungan, aku tidak mau ambil pusing saat itu. Seperti biasa, aku pergi ke warnet yang tidak jauh dari tempatku tinggal, hanya sekitar 200 M. Sesuai dugaanku disana teman – teman sudah menunggu.

[bctt tweet=”Hari – hari yang kami lalui adalaha rutinitas. Pergi pagi pulang petang, dan hanya pulang jika sudah tidak ada uang di tangan. #Thepast “]

 

Hari berlalu, berganti dengan sangat cepat, sampai aku tidak sadar bahwa itu adalah hari terakhir untuk mengambil formulir pendaftaran, semua sekolah negri sudah tidak menyediakan lagi formulir pendaftaran karena kuota peserta seleksi telah terisi dengan sempurna kecuali satu sekolah, yaitu MTs Negri 05 Jakarta.

Jauh hari sebelumnya, aku sudah beberapa kali dipanggil oleh pihak sekolah untuk menuliskan pilihan sekolah negri yang mau aku coba untuk mendaftar, tapi dengan hebatnya aku tidak pernah datang, seingatku hanya sekali, dan itupun waktu yang sangat akhir dimana semua teman – temanku sudah mendaftar terlebih dahulu.

Seingatku, Aku adalah orang terakhir yang mendaftar melalui sekolah, dan terakhir mendaftar di sekolah itu.

Aku ingat sekali ketika itu Ibu bilang kalau formulir yang ia beli adalah formulir terakhir, bahkan saat itu Ibu tidak tau kalau Ia harus memberikan biaya registrasi di awal, yaitu biaya formulir. Karena itu adalah formulir terakhir, dengan serius Ibu berfikir untuk bisa langsung mendapatkannya, suatu pertolongan Allah, Ibu mendapat uang pinjaman dari seorang tukang becak yang bahkan Ibu tidak pernah mengenal sebelumnya.

Di sisi lain, aku masih sama saja seperti hari sebelumnya, bermain. Pergi pagi pulang petang.

Sampai hari seleksi tiba, aku datang dengan santainya, nyaris tanpa persiapan apapun kecuali alat tulis yang sudah ibu sediakan. Aku diantar oleh Ibu sampai ke pintu gerbang sekolah. Ibu sudah memberitahuku sebelumnya bahwa ia akan langsung pergi karena Ibu masih ada pekerjaan.

Singkat cerita aku masuk ke ruang tes Alquran, di sana sudah banyak para peserta yang lain sedang menunggu gilirannya untuk bisa di tes dalam membaca Alquran, terlihat wajah – wajah tegang dari deretan duduk peserta yang lain, tapi tidak denganku yang dengan bodohnya masuk tanpa persiapan sebelumnya.

Aku bahkan baru tau bahwa akan ada tes membaca alquran untuk bisa masuk dan diterima di sekolah ini.
Setelah tiba giliranku, ketika diminta untuk membaca sebuah surah, reflek aku berkata “ saya gak bisa, Bu “. Terlihat jelas wajah heran pada raut wajahnya. Kemudian, Setelah beberapa saat dia berkata dengan nada yang cukup datar “oh, kamu gak bisa, ya. Yasudah kamu tunggu di luar ya nanti langsung ke tempat tes Iq saja.“ Jelasnya.

 

Kemudian sama seperti peserta lainnya yang sudah selesai tes membaca alquran, aku menunggu untuk tes iq, tidak ada yang istimewa pada tes ini, kecuali saat aku telah selesai mengerjakan semua soal tes, dan sadar bahwa peserta yang lainnya belum selesai. Heran juga, kenapa mereka belum selesai dengan soal mudah seperti ini, aku menanggapnya mudah karena menurutku kita tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dari beberapa pilihan jawaban yang ada.

Aku bergegas keluar dan menuju gerbang sekolah untuk segera pulang setelah, memeriksa jawaban tadi, dan mendapatkan kepastian tentang tanggal berapa hasil tes akan diumumkan.
Galau sebenarnya, ingin rasanya bisa diterima di sekolah itu, tapi membaca alquran saja aku tidak bisa. Sadar bahwa apa yang dulu aku lakukan benar – benar banyak yang tidak berguna. Fasilitas yang ada malah disia – siakan dengan apa adanya. Sadar bahwa apa yang dulu aku lakukan benar – benar banyak yang tidak berguna. Fasilitas yang ada malah disia – siakan dengan apa adanya.

Tweet : Aku pulang dengan perasaan berharap untuk bisa diterima, tapi disisi lain sadar akan batas diri.
#thepast

Kembali, waktu berlalu dengan cepat hingga hari pengumuman itu tiba.
Di hari – hari sebelumnya aku sudah jarang pergi ke warung internet, atau pergi bermain dengan teman – teman lainnya.

Hari – hari lebih banyak di kamar. “ walau tidak belajar, setidaknya aku tidak pergi keluar dan menjaga jarak dengan lingkungan yang kurang baik itu”. Fikirku dalam hati.
Sholat juga aku mulai biasakan, walau belum bisa konsisten untuk terus mengerjakannya, tapi di sela setiap sujud, aku sering berdoa, jika memang ini yang terbaik untukku, semoga engkau memudahkan segalanya untukku ya allah.

[bctt tweet=”Aku berdoa, Ya Allah Jika memang ini adalah yang terbaik untukku, maka mudahkanlah. #thepast”]

Aku berangkat dari rumah dengan berpamitan kepada Ayah dan Ibu, dan meminta restu mereka semoga aku bisa mendapat hasil yang terbaik. Sama seperti ketika aku berangkat untuk tes seleksi waktu itu.

Kemudian Ibu dan Ayah berkata “Iya, ndang, semoga kamu dapet hasil yang maksimal ya, Ayah dan Ibu selalu berdoa untukmu. Jauh hari dari sebelum hari pengumuman Ibu dan Ayah juga selalu berdoa untukmu. Semoga kamu bisa jadi orang yang lebih baik lagi. ”. beberapa baris kalimat yang selalu aku ingat, bahkan hingga saat ini aku masih inget jelas suasana dan perkataan Ayah dan Ibu waktu itu.

Aku tiba disekolah pukul 07.00 WIB,  bergegas melangkah menuju papan pengumuman, tapi sebelum tiba di sana, seseorang datang menghampiri dan bertanya, “ada keperluan apa? “
” Saya ingin melihat hasil penguman penerimaan siswa baru, pak “ Jawabku.
Kemudian dia memberi penjelasan bahwa hasilnya baru akan keluar jam 13.00 Wib Hari ini.

Aku sempet tertawa. “ biasanya aku yang datang paling akhir, tapi sekarang malah jadi paling awal, Terlalu semangatt “ Gumamku dalam hati.
Tweet : Sebuah keadaan yang terbalik. Biasanya aku lah yang datang paling belakangan.
Kemudian aku lansung bergegas pulang tanpa mampir ke tempat manapun. Dan langsung istirahat untuk tidur di kamar.

Sekitar jam 11 . 00 WIB aku bangun dan bergegas mandi untuk bersiap pergi ke sekolah itu lagi. Satu lagi, Sebuah kebiasaan yang jauh berbeda.
Singkat cerita, setelah shalat dzuhur berjamaah di masjid sekolah itu selesai, aku langsung menuju lapangan sekolah untuk menunggu hasil pengumuman ditempel.

Waktu terasa berjalan dengan sangat lamban, jauh berbeda dengan kondisi ketika aku bermain game, cepat, Sungguh cepat waktu berlalu, kala itu.

Lama aku menunggu, sampai akhirnya Nampak seorang laki – laki paruh baya berjalan menuju lapangan dengan membawa beberapa lembar kertas. Tampak di belakangnya beberapa perempuan dan seorang laki – laki yang mencoba untuk memberi pengarahan kepada kami agar sabar terlebih dahulu, dan menunggu kertas pengumuman itu selesai ditempel.

 

Aku bergegas menuju papan pengumuma ketika sudah terlihat begitu banyak orang – orang yang juga sudah berada di depan papan pengumuman itu, cukup banyak jumlah orang yang hadir untuk melihat langsung, dari peserta didik hingga orang tua didiknya pun ikut, untuk melihat hasil pengumumannya secara langsung.

Dengan mencoba optimis, aku melangkah maju, dalam fikiranku terbayang jelas wajah Ayah dan Ibu dan perkataan mereka tadi pagi. “Iya, ndang, semoga kamu dapet hasil yang maksimal ya, Ayah dan Ibu selalu berdoa untukmu. Jauh hari dari sebelum hari pengumuman Ibu dan Ayah juga selalu berdoa untukmu. Semoga kamu bisa jadi orang yang lebih baik lagi. ”

Yaa Allah, semoga ini adalah jalannya untukku agar bisa berubah jauh lebih baik lagi.

To be continue

Leave a Comment